Memikirkan Kalam Sang Pencipta

  • Whatsapp
Memikirkan Kalam Sang Pencipta
Mahasiswa Institut Agama Islam Daar Al Uluum Asahan-Kisaran

Oleh: Marisa Rizki, Reynita Almira Fitri D, Gita Angraeny

kliksumut.com – Al-Quran sebagai pedoman umat Islam, didalamnya terdapat pesan spirit berupa kalam Sang Pencipta untuk dapat memikirkan segala ciptaan-Nya serta mempercayai kebesaran-Nya. Segala hal yang ada di alam semesta ini semuanya tertera didalam Al-Quran, Allah juga memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir atas segala yang telah diciptakan-Nya yaitu seperti yang terdapat dalam Surah Ali-Imran ayat 190-191 Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

Artinya: 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(Q.S Ali-Imran [3] :190-191)

Dalam ayat ini Allah Swt. menegaskan bagi orang-orang yang berakal untuk memikirkan segala yang telah Allah ciptakan karena segala yang telah diciptakan Allah Swt tiadalah sia-sia. Pesan teks berupa kalam Ilahi diatas mencerminkan berpikir kritis terhadap informasi-Nya, dengan berusaha memahaminya dari berbagai sumber, menganalisis, dan merenungi kandungannya.
Berfikir adalah suatu kemampuan akal untuk merakit pengetahuan yang dimiliki seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Untuk memperoleh kebenaran ilmiah, diperlukan sarana berfikir yang dapat menghindari seseorang dari kesalahan (Muklis Kanto 2017:144).

Baca juga: Peminat Kelima Terbanyak , USU Terima 2.131 Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN 2021

Bacaan Lainnya

Berfikir juga dapat diartikan sebagai proses menemukan pengetahuan yang benar dengan menentukan langkah yang akan ditempuh.

Sedangkan arti dari kata ilmiah adalah ilmu. Ilmu adalah hasill dari pengalamah manusia dari suatu penyelidikan dengan melalui eksperimen yang akhirnya mengambil suatu hipotesa lalu menentukan suatu kesimpulan deduktif dan induktif (Al-Rasyidin dan Mardianto: 8).

Menurut Hillway (1956) Berfikir ilmiah adalah berpikir yang logis (masuk akal), dan empiris (dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan). Sedangkan menurut Salam (1997:139) berfikir ilmiah adalah proses berfikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

Jadi berpikir ilmiah adalah proses atau aktivitas manusia untuk menemukan atau mendapatkan ilmu yang bercirikan dengan adanya kausalitas, analisis, dan sintetis.

Sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik, dengan demikian fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, bukan merupakan ilmu itu sendiri (Bachtiar, 2001).

Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berfikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan (Jujun S. Suriasumantri,1985:165)

Baca juga: Belasan Mahasiswa Papua Mendatangi Kodim, Ada Apa .. !

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berfikir ilmiah adalah Sarana berfikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.

Cara Kerja

Allah Swt telah menyerukan manusia agar menggunakan akal untuk memikirkan dan memahami semua fenomena kejadian alam raya semesta ini. Seperti firman-Nya dalam surah An-Nahl ayat 12 yaitu:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٢﴾

Artinya: “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)”

Sarana berpikir ilmiah digunakan sebagai alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan cara kerja atau metode-metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan yaitu yang disebut ilmu (pengetahuan ilmiah). Seperti yang diketahui bahwa berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Maka dalam menemukan atau mendapatkan pengetahuan haruslah menggunakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran (berfikir).

Pos terkait