SIBOLGA | kliksumut.com – Ari Wibobi Tarihoran (29), salah satu dari ratusan juta peserta JKN penderita penyakit ginjal kronis dan hipertensi kini dirinya harus menjalani hemodialisis (cuci darah).
Sekarang Ari menjalani rutinitas kesehatan nya di Rumah Sakit Umum Dr. F. L. Tobing Kota Sibolga. Dirinya bersyukur dilindungi Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.
Kendati sekarang ini siapa saja bisa terserang penyakit, Ari juga pasien termuda yang ditemui di RSUDr. F. L. Tobing Kota Sibolga.
Dikisahkan Ari, pertama dirinya cek ke dokter ternyata setelah melakukan pemeriksaan medis dirinya mempunyai tekanan darah tinggi.
Selain itu, Ari juga sering mengalami sakit kepala dan sering mengkonsumsi obat dari pasaran. “Setelah sering melakukan rangkaian pemeriksaan dan tes medis, dokter anjurkan harus melakukan cuci darah,” kata Ari, Selasa (19/9) pagi.
Sudah hampir tujuh tahun lamanya peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah(PBPU) ini menjalani cuci darah.
Hal ini menyebabkan dirinya harus mengikuti prosedur ini secara berkelanjutan demi menggantikan fungsi ginjalnya. Karena ketika ginjal tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya, akan terjadi penumpukan limbah, racun, dan cairan dalam tubuh.
Sejak awal selain berdoa meminta kepada sang maha kuasa, Ari juga memiliki tekad yang kuat karena dirinya mengetahui bahwa upaya ini dilakukan agar terhindar dari berbagai komplikasi bahkan hingga mengancam nyawanya.
Syukur Alhamdulillah, tekad Ari didukung penuh oleh kehadiran keluarga yang senantiasa sedia untuk mengantarkannya menjalani pengobatan mesti harus bolak-balik ke rumah sakit. Karena prosedur hemodialisis ini biasanya menghabiskan waktu sekitar empat jam per sesi dan dilakukan setidaknya dua sesi setiap minggunya.
Seiring dengan dukungan keluarga, suasana kekeluargaan yang nyaman juga tercipta di ruang hemodialisis RSU Dr. F. L. Tobing Kota Sibolga.
Ari juga menambahkan, bahwa sepanjang ia telah melewati proses cuci darah ini selama
bertahun-tahun tidak pernah mengeluarkan biaya sepersen pun.
“Kalau seandainya saya jadi pasien umum, mungkin satu bulannya saya harus mengeluarkan biaya hingga sembilan juta rupiah. Jika dihitung setiap bulannya saya
wajib cuci darah sebanyak delapan hingga sembilan sesi,” sebutnya.
“Alhamdulillah, saya tidak memikirkan biaya yang besar lagi karena sudah memakai BPJS Kesehatan. Kalau dihitung-hitung juga tidak seberapa nilainya jika dibandingkan iuran bulanan yang wajib rutin saya bayarkan. Jadi, disiplin bayar iuran bulanan ya karena itu sangat berarti bagi kami,” sambungnya.
Kepala Bagian Ruangan Hemodialisis, Heni Bulan Hutapea menyatakan, bahwa pasien cuci darah ini sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
“Hubungan kami sudah seperti keluarga karena hemoadialisis ini adalah proses yang panjang bagi pasien. Bertahun-tahun kami tentunya bertemu dan berkomunikasi di
ruangan ini. Kami seluruh tenaga medis akan berusaha bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan. Karena perjalanan yang panjang ini pasti menyakitkan dan berat bagi pasien. Jadi, kami sering bersenda gurau agar tidak terbebani setiap sesinya para pasien harus menghabiskan waktu berjam-jam di sini,” urai Heni dengan penuh haru.(red)








