SIBOLGA kliksumut.com – Layanan BPJS kesehatan di Sibolga kini dirasakan oleh penjual keripik, namanya Tuti (61) warga Sibolga, Sumatera Utara. Dirinya adalah salah satu peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Keseharian Tuti yakni, menitipkan dagangannya ke beberapa warung yang tidak begitu jauh dari kediamannya.
Saat ditemui oleh awak media di Puskesmas Aek Habil, Kota Sibolga, Tuti saat itu sedang mengikuti kegiatan senam rutin bagi peserta JKN yang terdaftar Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Tuti pun dengan semringah berbagi pengalamannya ketika
menggunakan BPJS Kesehatan sejak pertama kali ia terdaftar sebagai peserta Program JKN.
“Saya didaftarkan oleh kepala lingkungan di daerah saya. Dengan adanya BPJS Kesehatan ini saya sangat bersyukur bisa terdaftar sebagai peserta Program JKN. Mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi, kemungkinan besar akan munculnya penyakit yang di luar kendali saya. Ditambah lagi saya sudah ditinggal oleh suami saya sejak tahun 2016 lalu, mau dari mana lagi saya membayar biaya berobat saya kalau tidak dijamin oleh program ini,” ungkap Tuti, Jumat (06/10).
Pada tahun 2018, Tuti pernah dibawa ke salah satu rumah sakit umum daerah di Kota
Sibolga dengan keluhan sakit perut dan mendapatkan penanganan langsung di
ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pada saat itu Tuti belum terdaftar sebagai peserta JKN dan saat itu karena kondisi anaknya sudah panik maka dia menjadi pasien umum tanpa ditanggung asuransi apapun.
Selanjutnya di tahun 2022 Tuti mengalami
gangguan pada matanya dan saat dilakukan pemeriksaan di Puskesmas, dokter mengatakan bahwa Tuti harus menggunakan kacamata untuk membantu penglihatannya.
“Saat mengetahui saya harus menggunakan kacamata oleh dokter, saya sudah tidak
terkejut lagi karena inilah salah satu penyakit di luar kendali saya. Akhirnya saya
menggunakan kacamata sesuai instruksi dokter, saat proses pengambilan kacamata di salah satu optik yang ada di Sibolga prosesnya sangat mudah dan cepat. Saya hanya menunjukkan lembaran yang diberikan oleh dokter ke optik tersebut dan kacamata saya langsung diberikan. Pelayanan yang ada di optik tersebut juga sangat memuaskan,” jelas Tuti.
Sampai dengan tahun 2023, Tuti sudah tiga kali melakukan pergantian kacamata
karena perubahan gangguan mata yang dialaminya. Tidak ada biaya yang Tuti
keluarkan saat melakukan proses pengobatan matanya tersebut, bahkan semua obat-obatan yang diberikan untuk proses penyembuhan Tuti gratis karena
memanfaatkan layanan JKN.
“Saya sangat bersyukur dengan adanya BPJS Kesehatan yang saya miliki saat ini karena kalau saya tidak menggunakannya, semua biaya pengobatan yang saya dapatkan akan saya tanggung sendiri. Jika dipikir-pikir biaya yang akan saya keluarkan kurang lebih satu juta rupiah untuk kacamata dan obat-obatan lainnya,” lanjut Tuti.
Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, Tuti mengaku bahwa dirinya kembali lagi ke
Puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan, karena Tuti mengalami
keluhan munculnya ruam-ruam di kulit bagian tubuh tertentu saat makan-makanan
seperti udang, telur, cumi dan sejenisnya. Akhirnya dokter mengatakan bahwa Tuti
mengalami alergi pada makanan khusus tersebut dan memberikan obat-obatan yang
sesuai dengan indikasi penyakitnya.
Tuti sudah dua kali mengalami keluhan alergi tersebut dan terus berobat ke Puskesmas dengan telaten. Tuti tetap mendapatkan pelayanan yang memuaskan dan tidak dipungut biaya apapun.
“BPJS Kesehatan memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya karena
telah mengelola Program JKN ini. Melalui JKN saya mendapatkan pelayanan dan
pengobatan yang berkelanjutan untuk setiap kondisi kesehatan yang saya alami,” urainya.
“BPJS Kesehatan juga sangat membantu sekali buat saya dan orang-orang yang
membutuhkan lainnya. Walaupun saya tidak mempunyai telepon, tapi anak saya sudah mengunduh Aplikasi Mobile JKN di teleponnya sehingga memudahkan saya
untuk melakukan pengobatan dikemudian hari lagi. Mudah-mudahan selalu tercipta
pelayanan yang mudah, cepat, dan setara,” timpal Tuti.(red)








