KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Nilai inflasi pada awal Ramadan 2026 dipastikan tetap terkendali. Kuatnya cadangan dan neraca pangan nasional menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan konsumsi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Februari 2026 secara bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,68 persen. Secara historis, tekanan inflasi memang kerap terjadi selama Ramadan dalam lima tahun terakhir. Namun, capaian tahun ini lebih rendah dibandingkan periode Ramadan 2025 yang mencapai 1,65 persen.
Secara spasial, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi dan 5 provinsi mengalami deflasi. Kenaikan harga terjadi seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa dinamika harga saat Ramadan merupakan pola musiman yang selalu terjadi akibat peningkatan permintaan.
“Setiap Ramadan pasti ada tekanan permintaan. Itu hukum ekonomi. Tetapi yang harus dijaga adalah jangan sampai lonjakannya berlebihan dan tidak kembali stabil. Tahun ini kita melihat angkanya masih moderat dan terkendali,” ujar Ketut dalam forum Kontan Share & Learn, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, Indonesia sebagai negara produsen pangan memang memungkinkan terjadinya pergerakan harga dalam batas wajar. Stabilitas, kata dia, tidak selalu berarti harga harus stagnan, melainkan bergerak dalam koridor terkendali.
“Kalau harga terus ditekan dan tidak pernah bergerak, itu berisiko bagi produsen. Petani dan peternak bisa terpukul karena biaya produksi tidak tertutup. Dalam jangka panjang, itu justru bisa mengganggu pasokan,” tegasnya.
BACA JUGA: JNE Hadirkan Program BERGEMA Sambut Ramadan 1447 H
Dari sisi ketersediaan, neraca pangan nasional triwulan I 2026 diproyeksikan surplus pada sejumlah komoditas strategis.
-
Beras surplus 14,83 juta ton (ketersediaan 22,59 juta ton, kebutuhan 7,76 juta ton)
-
Jagung surplus 4,99 juta ton
-
Daging ayam surplus 586 ribu ton
-
Telur ayam surplus 267 ribu ton
Pemerintah juga menguasai cadangan beras sekitar 3,5 juta ton yang dikelola Perum Bulog. Cadangan ini menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas harga di pasar.
“Kalau stoknya kuat, kita punya ruang intervensi. Instrumen kita lengkap, mulai dari cadangan, stabilisasi harga, sampai penguatan distribusi,” ujar Ketut.
Sebagai langkah konkret pengamanan pasokan dan harga, Bapanas menyalurkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 828 ribu ton beras.
Selain itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar di 514 kabupaten/kota. Pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Pengawasan turut diperketat melalui Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan. Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan sidak pasar akan terus dilakukan bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Bareskrim Polri.
“Kami pastikan stabilitas harga dan pasokan terus dijaga. Sidak pasar akan terus dilakukan, dan tidak boleh ada pelaku usaha yang mempermainkan harga pangan,” tegas Amran, Minggu (1/3/2026).
BACA JUGA: Suzuki Nex II, Motor Matic 115cc Tangguh dan Hemat BBM untuk Kebutuhan Keluarga
Dengan kombinasi surplus neraca pangan, cadangan pemerintah yang kuat, serta instrumen stabilisasi yang aktif berjalan, pemerintah memastikan inflasi Ramadan 2026 tetap terkendali.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan produsen tetap mendapatkan harga yang wajar, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan hingga Idulfitri dengan tenang dan tanpa kekhawatiran lonjakan harga pangan. (KSC)
TIM REDAKSI





