Bitcoin Depot Bangkrut! Raksasa ATM Kripto Nasdaq Tutup Total, Industri Bitcoin Kian Tertekan

Bitcoin Depot Bangkrut! Raksasa ATM Kripto Nasdaq Tutup Total, Industri Bitcoin Kian Tertekan
Perusahaan operator ATM Bitcoin terbesar yang tercatat di bursa Nasdaq, Bitcoin Depot, resmi menghentikan seluruh operasionalnya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat. (Ilustrasi/Ist)

KLIKSUMUT.COM | ATLANTA – Industri kripto global kembali diguncang kabar besar. Perusahaan operator ATM Bitcoin terbesar yang tercatat di bursa Nasdaq, Bitcoin Depot, resmi menghentikan seluruh operasionalnya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat.

Perusahaan yang berbasis di Atlanta itu secara sukarela mengajukan pailit ke Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada Senin (18/5/2026) waktu setempat. Dalam proses tersebut, Bitcoin Depot akan menutup layanan secara permanen sekaligus menjual aset-aset perusahaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Keputusan ini menandai salah satu kejatuhan terbesar dalam industri ATM kripto global, setelah sebelumnya Bitcoin Depot dikenal sebagai operator jaringan ATM Bitcoin terbesar di Amerika Utara.

BACA JUGA: IHSG Melemah 52 Poin, Saham HATM dan CARE Tertekan, MSKY Catat Lonjakan Fantastis

Seluruh ATM Bitcoin Offline

Sebelum bangkrut, Bitcoin Depot mengoperasikan sekitar 9.276 kios ATM Bitcoin di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Mesin-mesin tersebut memungkinkan pengguna mengonversi uang tunai menjadi aset kripto seperti Bitcoin secara instan.

Namun kini, seluruh jaringan ATM milik perusahaan telah dinonaktifkan alias offline.

Kondisi itu memperlihatkan tekanan besar yang sedang melanda sektor layanan ATM kripto di tengah meningkatnya pengawasan regulator terhadap transaksi aset digital.

Pendapatan Anjlok 49 Persen

Krisis Bitcoin Depot semakin terlihat setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal I 2026 yang menunjukkan penurunan pendapatan hingga 49 persen secara tahunan (year-on-year).

Tak hanya itu, perusahaan juga mencatat kerugian sebesar US$9,5 juta setelah pada periode sebelumnya masih mampu membukukan laba US$12,2 juta.

Sementara laba kotor perusahaan anjlok drastis hingga 85 persen menjadi hanya sekitar US$45 juta.

Situasi tersebut membuat kondisi keuangan perusahaan semakin sulit dipertahankan.

Regulasi Ketat Jadi Penyebab Utama

CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyebut aturan pemerintah yang semakin ketat menjadi faktor utama keruntuhan bisnis ATM kripto.

Menurut Holmes, banyak negara bagian di AS mulai menerapkan regulasi baru berupa pembatasan transaksi, kewajiban kepatuhan yang lebih rumit, hingga pelarangan operasional ATM Bitcoin di beberapa wilayah.

“Negara-negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang makin ketat, termasuk batasan transaksi baru dan di beberapa yurisdiksi pembatasan atau larangan langsung terhadap operasi Bitcoin ATM,” ujar Holmes dalam pernyataannya.

Ia juga menegaskan bahwa peningkatan litigasi serta penegakan hukum membuat model bisnis perusahaan sudah tidak lagi mampu bertahan.

Terseret Dugaan Penipuan Kripto

Selain tekanan regulasi, Bitcoin Depot juga menghadapi gugatan hukum besar di beberapa negara bagian AS, termasuk Massachusetts dan Iowa.

Perusahaan dituduh memfasilitasi berbagai kasus penipuan kripto melalui jaringan ATM mereka.

Laporan terbaru menunjukkan kerugian akibat penipuan ATM kripto mencapai US$389 juta sepanjang tahun lalu atau meningkat 58 persen dibanding 2024.

Lonjakan kasus tersebut membuat regulator dan aparat penegak hukum semakin agresif mengawasi industri ATM aset digital.

BACA JUGA: Koperasi Simpan Pinjam di Binjai Ganti PIN ATM Nasabah secara Sepihak, Nasabah Kehilangan Uang di Tabungan

Industri Kripto Sedang Berubah

Kebangkrutan Bitcoin Depot terjadi di tengah perubahan besar dalam industri kripto global.

Saat ini, adopsi institusional terhadap aset digital justru meningkat melalui instrumen investasi seperti ETF Bitcoin dan perkembangan regulasi baru seperti Clarity Act di AS.

Namun di sisi lain, model bisnis ATM kripto dinilai mulai kehilangan daya saing akibat tingginya biaya operasional, tekanan hukum, serta meningkatnya pengawasan pemerintah terhadap transaksi aset digital.

Runtuhnya Bitcoin Depot menjadi sinyal kuat bahwa industri kripto kini memasuki fase baru, di mana perusahaan harus mampu beradaptasi dengan regulasi yang semakin ketat atau berisiko tersingkir dari pasar global. (CNBCindonesia)

Pos terkait