SDM Tangguh Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan di Indonesia

SDM Tangguh Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan di Indonesia
Hj Henny Pratiwi SP, MM

Oleh: Hj Henny Pratiwi SP, MM

KLIKSUMUT.COM – Ketahanan pangan kini menjadi isu strategis global di tengah laju pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan terbatasnya lahan pertanian. Sebagai negara agraris, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ketergantungan terhadap impor bahan pangan strategis seperti gandum dan kedelai masih menunjukkan bahwa produksi pangan nasional belum sepenuhnya optimal. Sementara itu, pergeseran pola konsumsi masyarakat dari pangan lokal ke pangan instan turut memengaruhi stabilitas pangan nasional.

Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor paling krusial dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Petani, penyuluh, peneliti, serta pelaku industri pangan harus memiliki kemampuan manajerial, teknologi, dan kewirausahaan agar mampu mengelola lahan secara produktif sekaligus ramah lingkungan.

Pemerintah didorong untuk memperkuat pendidikan, pelatihan, dan transfer teknologi pertanian melalui program smart farming dan precision agriculture. Langkah ini penting agar generasi muda kembali tertarik ke sektor pertanian, mengingat mayoritas petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: TNI AL Gelar Panen Ketahanan Pangan 2025 di Batam, Dukungan Kemandirian Pangan Maritim

Tanpa SDM yang tangguh dan inovatif, teknologi canggih sekalipun tidak akan memberikan hasil maksimal.

Ketahanan pangan dan energi merupakan dua pilar utama pembangunan berkelanjutan. Kedua sektor ini saling berkaitan erat: kebutuhan energi memengaruhi produksi pangan, sementara sistem pangan juga dapat mendukung penyediaan energi alternatif seperti bioenergi.

Namun, pengembangan bioenergi perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengancam ketersediaan pangan. Pemerintah telah mengatur hal ini melalui Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menargetkan peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 23% pada tahun 2025.

Salah satu strategi utamanya adalah pengembangan biofuel berbasis sumber daya lokal seperti kelapa sawit, singkong, dan limbah pertanian. Langkah ini dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi di pedesaan serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Perguruan tinggi dan lembaga riset diharapkan menjadi pusat inovasi bioenergi dan pertanian berkelanjutan. Melalui riset terapan dan pendidikan vokasi, generasi muda dapat dibekali kompetensi dalam pertanian terpadu yang menggabungkan sistem pangan, energi, dan lingkungan.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan petani sangat dibutuhkan untuk membentuk ekosistem pangan yang adil, adaptif, dan ramah lingkungan.

BACA JUGA: Pemkab Asahan Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Bantuan Alat Pertanian

Sinergi kebijakan pangan dan energi harus berjalan beriringan agar produktivitas pangan meningkat tanpa mengorbankan sumber energi terbarukan.

Dengan SDM yang adaptif, kreatif, dan berwawasan lingkungan, Indonesia berpeluang besar mencapai kedaulatan pangan dan swasembada bioenergi berkelanjutan. Upaya ini tak hanya memperkuat ketahanan nasional, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa. (KSC)

Penulis: Dosen Pertanian UPMI dan Ketua ASBF Sumut

Pos terkait