Vanili Mulai Jadi Primadona Ekspor Sumut

Vanili Mulai Jadi Primadona Ekspor Sumut
Kepala Balai (tengah) memeriksa tanaman Vanili di Desa Perbesi

KARO | kliksumut.com Komoditas Vanili dan produk turunan yang berasal dari Sumatra Utara mulai diminati eksportir karena memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar dunia.

Seperti yang diungkapkan Hendi Situmorang, Perwakilan PT Sumber Bukit Jaya. Perusahaan ini merupakan salah satu eksportir Vanili terbesar di Sumut. Menurut dia, Vanili merupakan komoditas pertanian yang bernilai tinggi.

“Dari sisi pengiriman saja kita harus menggunakan transportasi udara, tidak bisa disamakan dengan komoditas lain yang dikirim lewat laut,” ujarnya, Selasa (28/12).

BACA JUGA: Lepas Ekspor Senilai Rp35,03 Triliun, Mendag: Ekonomi Nasional Mulai Pulih

Sejauh ini, kata dia, Vanili dari Sumut sudah menarik minat banyak negara di Eropa dan Asia yang kemudian menjadi tujuan ekspor. Produk Vanili yang dikirim adalah buah yang sudah dikeringkan (Vanili Bean) atau sudah menjadi bubuk (Vanili Powder).

Di negaranya masing-masing produk Vanili dari Sumut digunakan untuk berbagai kegunaan. Di antaranya sebagai bahan perasa makanan, pewangi, kosmetik dan banyak kegunaan lain.

Dari petani, perusahaannya membeli Vanili dengan harga Rp200-300 ribu per kg, tergantung kualitasnya.

Saat ini Sumut mulai memiliki beberapa daerah sentra Vanili dan yang terbesar adalah Kabupaten Karo. Diikuti daerah-daerah di sekitar Danau Toba, kemudian deliserdang dan Langkat.

Selain menjadi sentra utama, kualitas Vanili dari Tanah Karo juga relatif lebih bagus dari daerah-daerah lain di Sumut. Bahkan kualitas Vanili dari Tanah Karo juga merupakan yang terbaik di Indonesia.

Dia mencatat, Sumut sudah mampu memproduksi 10 ton Vanili setiap bulan, yang mana seperempat di antaranya berasal dari Desa Perbesi di Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo.

Perbesi menjadi sentra Vanili di Karo karena memiliki petani yang relatif banyak dan bersungguh-sungguh membudidayakan tanaman ini. Kendati demikian, dia mengakui bahwa kualitas Vanili dari Perbesi masih butuh peningkatan bila mengacu pada standar pasar dunia.

Secara fisik, ukuran buah masih perlu diperbesar dan tingkat kematangan juga masih perlu lebih diperhatikan saat panen. Upaya memperbesar buah Vanili menurut dia sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah.

Salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah buah pada setiap tandan dan mengurangi jumlah tandan dari setiap pohon.

Produksi buah juga akan jauh lebih baik bila aktivitas perawatan dilakukan secara rutin, bahkan hingga pada keteraturan jam. Jika hal-hal itu dilakukan, maka petani akan mendapat 1 kg Vanili hanya dengan 25-30 buah, berbeda dari saat ini yang membutuhkan hingga 70 buah.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Implementasi Perizinan Ekspor Impor Melalui Sistem Indonesia National Single Window (SINSW)

Lebih jauh dia utarakan, mengiringi kebijakan Gratieks yang dicanangkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pihaknya pun menargetkan peningkatan volume ekspor hingga tiga kali lipat pada 2022. Bahkan dia optimistis volume ekspor Vanili dari Sumut dapat meningkat hingga lima kali lipat.

Salah satu alasannya karena produksi buah Vanili akan bertambah lima kali lipat setiap tahun pada tanaman yang sama. Dengan kata lain, semakin tua tanaman Vanili, makan kemampuan produksinya juga akan semakin besar.

“Tinggal bagaimana para petani dapat lebih memerhatikan kualitas buah,” ujarnya.

Karena itu dia mengatakan perusahaannya sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan. Seperti dengan memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada para petani Vanili di Desa Perbesi pada Senin (27/12).

Dia berharap Karantina Pertanian Medan terus melanjutkan program bimtek ini ke daerah-daerah penghasil Vanili yang lain di Sumut dan Kabupaten Karo khususnya. Selain, teknis persyaratan kualifikasi ekspor dia juga meminta Karantina Pertanian Medan membimbing petani untuk menghadapi jamur.

“Selama ini serangan jamur menjadi penyebab utama penurunan kualitas buah Vanili. Sampai sekarang belum ada jalan keluarnya,” ungkap Hendi.

Dia mengatakan, saat ini acuan kualitas Vanili di pasar dunia adalah komoditas dari Madagaskar. Karena itu, dia juga berharap Karantina Pertanian Medan ikut membantu menyosialisasikan ke berbagai pihak di dalam dan luar negeri bahwa Vanili dari Sumut sama baiknya dengan komoditas dari Madagaskar. (red)

 

Pos terkait