Vaksin PMK Tiba, Kementan Dorong Penyuntikan Ternak Segera

Vaksin PMK Tiba, Kementan Dorong Penyuntikan Ternak Segera
Menteri Pertanian Indonesia Syahrul Yasin Limpo (ketiga dari kiri) beserta tim memantau kondisi ternak dalam rangka mencegah wabah penyakit kuku dan mulut yang menyerang sapi di Indonesia. (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Delapan ratus ribu dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahap kedua tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat dini hari. Meski sangat terbatas, pemerintah berharap penyuntikan vaksin segera mampu menghambat penyebaran wabah ini.

JAKARTA | kliksumut.com Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo langsung menerima kedatangan vaksin itu bandara, dan meminta distribusi dilakukan secepatnya. Vaksin tersebut akan didistribusikan melalui pemerintah daerah dan posko darurat PMK, dan diprioritaskan pada daerah zona merah dan kuning.

“Saya berharap gugus tugas yang ada di kabupaten, crisis center yang ada di kabupaten atau provinsi, dan secara nasional sudah mempersiapkan diri untuk melakukan penyuntikan vaksin,” kata Menteri Syahrul yang dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com.

Di samping impor, Indonesia juga berharap pada vaksin produksi dalam negeri. Percepatan produksi ditugaskan kepada Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya dengan target selesai awal Agustus.

“Yang pasti, yang ada ini akan kita maksimalkan. Yang kita pesan tiga juta sebagai vaksin darurat. Pada proses selanjutnya akan kita menggunakan kebijakan pemerintah yang ada dan bisa kita pesan lebih banyak, agar PMK bisa kita katakan semua bisa divaksin sama dengan covid kurang lebih, sehingga kita yakin PMK sudah dalam kendali,” tambah Syahrul.

BACA JUGA: Kasus PMK Terkendali, Gubernur Sumut Yakinkan Konsumsi Daging Aman

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri dalam penjelasan resmi pada Kamis (16/6), menyebut, pada 12 Juni juga telah tiba 10 ribu vaksin tahap pertama. Dua hari kemudian, telah dilakukan vaksinasi perdana di dua peternakan sapi rakyat, di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Karena jumlah vaksin darurat masih sangat terbatas, Kuntoro menegaskan vaksinasi diprioritaskan untuk hewan sehat yang berada di zona merah dan kuning, wilayah sumber bibit dan sentra peternakan sapi perah.

Kuntoro menampik tuduhan bahwa pemerintah khususnya Kementerian Pertanian lamban dalam menangani wabah PMK.

“Dalam hitungan hari Kementan berhasil menemukan serotipe dan strain virus PMK yang ada, sehingga produksi dan pengadaan vaksin pun dapat segera dilakukan sesuai kebutuhan,” ujar dia.

Dia juga mengatakan, upaya penanganan dan pengobatan dilapangan juga sudah dilakukan pada ternak bergejala ringan hingga berat.

“Namun mengingat penularan virus yang bersifat airborne dan dapat menular cepat hingga radius 10 kilometer, maka penyebaran PMK sangat tinggi,” tambahnya.

Membutuhkan Penanganan Terfokus

Meski mengklaim telah menangani PMK dengan serius, Kementerian Pertanian tetap didorong untuk bekerja lebih keras. Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D., merekomendasikan sejumlah langkah. Salah satunya adalah membentuk satuan tugas yang fokus pada penghentian penyebaran virus penyebab PMK melalui tindakan karantina, pengawasan dan pembatasan lalu lintas ternak, serta penutupan pasar hewan.

Pos terkait