Presiden Jokowi: Perang Ukraina-Rusia Hambat Pemulihan Ekonomi Global

Buka Perdagangan BEI 2022, Jokowi Optimistis Pasar Modal Tumbuh lebih Baik
Presiden Joko Widodo

JAKARTA | kliksumut.com Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengatakan semua pihak harus berusaha keras untuk meminimalisir dampak invasi Rusia ke Ukraina khususnya di bidang ekonomi. Pasalnya, ekonomi Indonesia dan global belum pulih akibat dihantam pandemi COVID-19.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa Presiden Joko Widodo menyebut tantangan ke depan tidak semakin mudah. Ia menjelaskan ketidakpastian global semakin menjadi-jadi menyusul perang antara Rusia dan Ukraina.

“Dulunya, ketidakpastian itu karena distrupsi teknologi, karena revolusi industri 4.0, tetapi ini ditambah lagi dengan pandemi, tambah lagi dengan perang di Ukraina, sehingga apa? Ketidakpastian global yang itu juga merembet kepada ketidakpastian negara-negara dimana pun di dunia ini menjadi semakin meningkat,” ungkapnya pada Pengarahan Rapim TNI-Polri, di Jakarta, Selasa (1/3/2022).

BACA JUGA: WNI di Ukraina Mengungsi ke Kantor Kedutaan Besar RI di Kyiv, “Minta Dibantu Doa, Supaya Selamat”

Bacaan Lainnya

Ia mencontohkan, dampak perang tersebut berimbas kepada naiknya harga bahan pangan akibat rantai pasokan global yang terganggu dan kelangkaan pangan, sehingga masyarakat harus membayar harga yang lebih mahal dari biasanya.

Kenaikan harga pangan tersebut, ujar Jokowi, tentu berdampak pada naiknya inflasi. Ia mencontohkan inflasi di Amerika Serikat sudah lebih dari tujuh persen, sementara negara-negara lain ada yang sudah mencapai 30 persen-50 persen. Ia juga mengatakan, perang tersebut juga berdampak kepada kelangkaan energi sehingga harga minyak mentah melambung hingga mencapai di atas USD100 per barel, dari sebelumnya yang hanya USD50 hingga USD60 per barel.

“Ini efek berantainya seperti itu, supaya kita ngerti betapa ketidakpastian itu menimbulkan tantangan yang tidak mudah. Oleh sebab itu, kerja sekarang tidak bisa makro saja tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah, semuanya kerja makro, kerja mikro, makronya tahu, mikronya juga harus dikerjakan di lapangan,” jelasnya.

Jokowi mengatakan, untuk meminimalisir dampak tersebut pemerintah akan melakukan transformasi ekonomi. Jika sebelumnya ekonomi Indonesia hanya mengandalkan sektor konsumsi (yang besarannya mencapai 56-58 persen), ke depannya akan bertumpu pada sektor produksi.

BACA JUGA: Pasca 15 Situs Ukraina Diserang, AS Tawarkan Dukungan

Guna mencapai tujuan itu, pemerintah akan semakin menggencarkan hilirisasi industri. Jokowi menyebut sejak 400 tahun yang lalu Indonesia selalu mengekspor bahan mentah sehingga keuntungan yang didapat oleh negara tidak maksimal. Ke depannya, pemerintah tidak akan lagi melakukan itu.

“Oleh sebab itu, 2020 saya sudah sampaikan setop nikel, gak boleh ekspor nikel mentah. Kiriman harus minimal barang setengah jadi, berikutnya harus barang jadi, sehingga nilai tambah itu ada di sini. Nilai tambah itu akan terbuka lapangan pekerjaan yang gede di Indonesia, pajaknya bayar di Indonesia, pihak luar bayar di Indonesia. PPN bayar di Indonesia, PNBP ada di Indonesia, dapat semua kita di sini,” jelasnya.

Untuk mengatasi kemungkinan kelangkaan energi, kata Jokowi, pemerintah akan mulai melakukan transformasi ke ekonomi hijau yang diyakini kelak akan menjadi kekuatan Indonesia. Menurutnya, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam hal ini yang tidak dimiliki oleh negara lain.

“Di situlah nanti pintu gerbang kita untuk membuka yang namanya ekonomi hijau Indonesia yang energinya di dapat dari PLTA, hydropower di Sungai Kayan, yang akan menghasilkan kira-kira sampai 12 ribu MW. Inilah kekuatan negara kita, karena kita mempunyai sungai 4400 sungai, lalu kita punya geothermal 29 ribu MW, ada angin, arus bawah laut, panas permukaan laut, tenaga surya/matahari semuanya bisa masuk ke energi hijau, ini kekuatan negara kita yang negara lain tidak punya,” paparnya.

Pos terkait