PKL Kembali Kuasai Jalan Penghasilan Berastagi, Satpol PP Karo Dinilai Tak Berdaya

PKL Kembali Kuasai Jalan Penghasilan Berastagi, Satpol PP Karo Dinilai Tak Berdaya
Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Penghasilan Kelurahan Tambak Lau Mulgap II Berastagi kembali membentangkan barang dagangan mereka di atas badan jalan serta trotoar Minggu (02/03/2025). (kliksumut.com/Herman Harahap)

KLIKSUMUT.COM | KARO – Ketertiban pedagang kaki lima (PKL) di Pusat Pasar Berastagi kembali dipertanyakan. Baru sebulan setelah relokasi oleh Pemerintah Kabupaten Karo, para PKL kini kembali memenuhi Jalan Penghasilan, Kelurahan Tambak Lau Mulgap II, Kecamatan Berastagi. Mereka nekat berjualan di badan jalan dan trotoar, mengabaikan aturan yang telah ditetapkan.

Padahal, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP dan Dinas Koperindag sebelumnya telah melakukan penertiban dengan merelokasi pedagang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) los jahe-jahe. Namun, kebijakan ini justru menimbulkan polemik. Para pedagang yang direlokasi mengeluhkan sepinya pembeli, sementara PKL yang tetap berjualan di luar justru tetap ramai pembeli.

BACA JUGA: Pasar Minggu Berastagi Seakan Dilema dan Semeraut, Pemkab Karo Diminta Segera Turun Lapangan

Satpol PP Karo Dinilai Tak Tegas

Kinerja Satpol PP Kabupaten Karo di bawah kepemimpinan Gelora Fajar Purba kini menjadi sorotan. Meski awalnya gencar menertibkan PKL, kini mereka seolah kehilangan kendali. Pada Minggu (2/03), kondisi di sepanjang Jalan Penghasilan menunjukkan bahwa para PKL bebas menjajakan dagangan mereka, tanpa ada tindakan tegas dari pihak berwenang.

Seorang warga setempat, Usaha Pelawi SE (58), mengungkapkan kekecewaannya terhadap penegakan aturan yang dinilai setengah hati.

“Saya berharap Bupati Karo Antonius Ginting dan Wakil Bupati Karo Komando Tarigan lebih tegas dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) tentang ketertiban umum. Jangan sampai ada pedagang yang dirugikan. Kalau dibiarkan seperti ini, yang di dalam TPS pasti akan bangkrut,” ujarnya.

Pedagang di TPS Merugi, Omzet Anjlok

Para pedagang yang telah direlokasi ke TPS los jahe-jahe mengeluhkan sepinya pembeli. Salah satu pedagang, M. Ginting (48), mengungkapkan bahwa sejak dipindahkan, pendapatan mereka turun drastis.

“Dulu kami bisa mendapatkan pemasukan yang cukup, sekarang sehari paling hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sementara, kami masih harus membayar listrik, retribusi sampah, dan kebutuhan rumah tangga. Kalau dibiarkan seperti ini, kami bisa gulung tikar,” keluhnya.

Ia juga menyoroti adanya praktik penyewaan lapak oleh pemilik kios kepada PKL, yang semakin memperburuk kondisi pedagang di dalam TPS.

BACA JUGA: Ramadhan, Dit Binmas Polda Sumut Safari Ceramah Kamtibmas di Polres Karo

Harapan untuk Pemimpin Karo yang Lebih Tegas

Sejumlah pedagang dan warga Berastagi berharap agar Bupati Karo segera mengambil tindakan tegas untuk membenahi Pasar Berastagi. Mereka menuntut adanya penegakan aturan yang lebih konsisten serta evaluasi terhadap jajaran yang dinilai tidak bekerja maksimal.

“Semoga bupati yang baru bisa membenahi Pasar Berastagi agar lebih tertata dan indah. Kalau bawahan tidak mampu bekerja dengan baik, itu tugas bupati untuk menggantinya,” pungkas Usaha Pelawi.

Dengan kondisi ini, masyarakat menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah. Jika tidak segera ditindaklanjuti, ketidakadilan bagi pedagang yang direlokasi akan semakin besar, sementara kekacauan di Pasar Berastagi akan terus berlanjut. (KSC)

Pos terkait