Pencapaian Herd Immunity pada 2022 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sumut

  • Whatsapp
Pencapaian Herd Immunity pada 2022 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sumut
kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Soekowardojo pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2021 di Hotel Adimulia Rabu (24/11/2021).

MEDAN | kliksumut.com Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (BI Sumut) optimis perekonomian Sumut pada 2021 tumbuh positif pada kisaran 2,5 hingga 3,3 persen dan akan meningkat di 2022. Akselerasi tersebut didukung perbaikan permintaan dom.estik dan pertumbuhan ekonomi global yang menguat.

“Optimisme pencapaian herd immunity seiring akselerasi vaksinasi mendorong perbaikan dan pertumbuhan ekonomi Sumut di 2022,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Soekowardojo pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2021 di Hotel Adimulia Rabu (24/11/2021).

Dari sisi investasi swasta, pada 2022 diperkirakan akan semakin terakselerasi seiring iklim investasi yang kondusif tercermin dari kemudahan perizinan, kepastian hukum dan tenaga kerja yang kompetitif,”

BACA JUGA: Bank Indonesia Perwakilan Sumut Gelar Pelatihan Wartawan Ekonomi dan Bisnis

Ia menyebut, dari sisi eksternal, perbaikan ekonomi global terutama negara mitra dagang akan mendorong permintaan komoditas ekspor utama seperti kelapa sawit, karet dan kopi di tengah harga komoditas yang diperkirakan masih tinggi.

Namun, seiring dengan perbaikan di sisi permintaan, seluruh lapangan usaha utama diperkirakan mengalami akselerasi pada 2022.

Sejalan dengan pemulihan ekonomi, tekanan inflasi Sumut diperkirakan meningkat pada tahun 2022. Menurutnya hal itu disebabkan permintaan masyarakat yang menguat seiring membaiknya pendapatan dan perekonomian.

Soekowardojo mengungkapkan, di tengah optimisme perbaikan ekonomi pada 2022, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu perhatian besar.

“Pertama, risiko terkait perkembangan Covid-19 perlu terus diwaspadai. Kedua, isu perubahan iklim global menjadikan penerapan ‘green economy’ perlu menjadi perhatian sehingga berdampak pada strategi menjaga kelangsungan produksi pertanian dan perkebunan di Sumut,” tuturnya.

Ketiga, sebutnya, seiring meningkatnya permintaan global terkait komoditas ekspor Sumut, perlu adanya kesiapan industri agar lebih kompetitif dibandingkan dengan produk sejenis dari negara pesaing,” bebernya.

Keempat, lanjutnya, koordinasi antar kabupaten, kota serta provinsi untuk menciptakan aglomerasi industri masih perlu ditingkatkan. Sementara, kelima, terkait optimalisasi kinerja fiskal.

Selanjutnya, keenam, membaiknya pendapatan masyarakat dan kenaikan harga komoditas yang berpotensi pada tekanan inflasi ke depan perlu mendapat perhatian.

Ketujuh, pengembangan pariwisata di Sumut sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi masih perlu ditingkatkan, baik dari aspek Amenitas, Atraksi, Aksesibilitas, Promosi, dan Pelaku Usaha (3A, 2P).

Kedelapan, upaya pemulihan sektor prioritas Sumut masih memerlukan dukungan pembiayaan dari perbankan.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Bank Indonesia Siapkan Rekomendasi Pemulihan Ekonomi Sukabumi

Menurut Soekowardojo, dengan berbagai tantangan yang ada, Sumut perlu terus menguatkan sinergi, membangun optimisme akselerasi pemulihan ekonomi melalui delapan rekomendasi strategi penguatan.

Diantaranya, terkait dengan upaya pencapaian ‘herd immunity’ guna mendukung pemulihan ekonomi Sumut, maka percepatan dan perluasan vaksinasi perlu terus didorong dengan tetap mensosialisasikan penerapan disiplin protokol kesehatan.

Kemudian, terkait dengan isu ‘green economy’, strategi yang perlu ditindaklanjuti bersama adalah percepatan pelaksanaan bantuan pengurusan ISPO bagi petani sawit, pengembangan food estate dan integrated farming sebagai upaya menjaga sustainabilitas produksi.

Selanjutnya, hilirisasi industri komoditas utama perlu terus didorong antara lain dengan kemudahan izin berusaha pendirian pabrik, optimalisasi KEK dan Kawasan Industri serta mendorong pengembangan sarana prasarana ekspor di Pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan.

Kemudian, perlu adanya pemetaan komoditas dan industri potensial yang melibatkan kerjasama antar kabupaten/kota. Kelima, mendorong pemanfaatan alternatif pembiayaan yang inovatif untuk pembangunan daerah. Selain itu, memperkuat program kerja TPID dalam peta jalan pengendalian inflasi melalui program 4K dan Pekan Horas Tani.

BACA JUGA: Pemerintah dan Bank Indonesia Sepakati 12 Program Sinergi Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah

Selanjutnya, perlunya koordinasi antar stakeholder dalam mendukung perluasan pembukaan aktivitas pariwisata berbasis CHSE. Kemudian, perlu terus didorong upaya pembiayaan dari perbankan terhadap kegiatan usaha secara ‘case by case’ yang mempunyai prospek berkembang dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian.

Untuk mendukung rekomendasi-rekomendasi itu dan sebagai bagian dari transformasi digital, baik di pemerintah maupun swasta, Bank Indonesia Provinsi Sumut berharap program perluasan digitalisasi daerah dapat semakin terakselerasi dengan terbentuknya TP2DD di seluruh kabupaten/kota. (swisma)

Pos terkait