
MEDAN | kliksumut.com – Pemanah kota Medan berhasil menyumbang medali perunggu bagi kontingen Sumut pada ajang bergengsi antar pelajar bertajuk Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV/2019 di Jakarta.
Raihan atlet bernama lengkap Dicky Herfiansyah Lubis membuat dirinya semakin termotivasi dan merupakan modal untuk membidik busur pada arena PON XXI/2025 Sumut-Aceh.
Baca juga : PSMS Medan Bertanding Hari Ini, Siapkan Strategi Counter Attack
Atlet berdomisili di Jalan William Iskandar Medan ini memulai karir sebagai atlet sejak duduk di kelas IX SMP. Bakat yang terpendam dari anak almarhumah Herman Lubis dan Nurhidayati disalurkan dengan belajar memanah di Planters Archery Club berlokasi di di Lembaga Pendidikan Perkebunan Kampus Medan/STIP-AP Jalan Willem Iskandar Medan yang tidak jauh dari kediaman Dicky. Setiap Sabtu sore dan Minggu pagi terus mengasah skil dan teknik panahan di bawah asuhan pelatih Yose Andre Sinuhaji.
Sebelumnya, pelajar SMA Dharmawangsa menggeluti renang dan selanjutnya tenis lapangan. Namun, kedua olahraga yang digeluti tidak melihat perkembangan dalam prestasi. Ingin mencoba yang baru, akhir kepincut dengan olahraga panahan. Apalagi saat ini, pengenalan olahraga panahan di kalangan pelajar ini semakin gencar agar para pelajar tertarik mengenal olahraga panahan, sehingga diharapkan bisa dilakukan pembinaan sejak dini dan mengukir prestasi.
Hal ini dibuktikan anak bungsu dari dua bersaudara dengan menggondol 4 keping emas pada Kejuaraan Daerah Panahan antar pelajar se-Sumut memperebutkan piala Gubsu yang digelar di Medan 2019. Pria yang dilahirkan di Medan ini membukukan prestasi pada nomor aduan perorangan, jarak 50 m putra, jarak 40 m putra dan jarak 30 meter. Hasil yang diraih tak membuat merasa puas diri namun terus latihan dan latihan untuk memperbaiki bidikan dan kejauhan untuk mengikuti ternamen lainnya, sehingga dapat menjadi bagian dari kontingen Sumut pada PON XXI/2025 Sumut-Aceh dan masuk pelatnas untuk mengibarkan sang merah putih di even internasional.
Diakui Dicky olahraga panahan tidak sekadar menjadi tren, tapi memberikan berbagai manfaat bagi mereka yang menjalaninya dengan rutin. Diantaranya melatih agar bisa lebih fokus, meningkatkan kemampuan koordinasi mata dan tangan, relaksasi hingga menambah kepercayaan diri. Terakhir merasa puas bila hasil panahan sesuai dengan target.
“Memang mulanya sangat sulit untuk memahami teknik panahan. Pengenalan alat, teknik-teknik dasar memanah, cara berdiri dan sikap kuda-kuda adalah beberapa hal yang pertama kali akan diajarkan pelatih. Bagi pemula yang baru belajar, jangan khawatir jika sikap berdiri akan terasa kaku dan tangan gemetar. Sebab itu adalah hal wajar dan jika rajin latihan maka tangan serta kuda-kuda akan terbiasa dan lebih kuat. Berkat kesabaran dan ketekunan saat ini berdiri tak terasa kaku dan tangan tak gemetaran lagi,” ujar Dicky di Medan, kemarin.
Atlet yang dilahirkkan 17 tahun silam ini, menjelaskan mula hanya ingin mengetahui hal baru dan memcoba olahraga panahan untuk melatih ketenangan, kosentrasi dan panahan juga dianjurkan dalam agama Islam makanya niat untuk menggelutinya.
Baca juga : PSMS Fans Club “Perang” Terhadap Covid-19
Pendoyan nasi goreng ini menyebutkan olahraga telah mengajarkan kita hikmah tentang bagaimana menjadi manusia yang tangguh tak gampang menyerah dan membuat segala kemustahilan menjadi mungkin diatasi. Pertandingan perdana yang dilakoni telah menginspirasi tentang perjuangan sebagai atlet untuk bangkit menjadi pemenang dan meraih kemenangan dengan menjadi juara setelah melewati masa-masa latihan yang berat dan tantangan yang sulit.
“Target kedepan terus berpacu dengan waktu dan latihan untuk menorehkan prestasi demi prestasi dengan target membawa nama kota Medan mejadi harum di cabang olahraga panahan pada tingkat regional, nasional dan internasional,” pungkas pengidola Riau Ega Agata. (BNL)








