KLIKSUMUT.COM | LANGKAT ~ Pascabanjir besar akibat luapan Sungai Besitang pada November 2025, warga Desa Lingkungan Enam Sungai Pucuk, Kecamatan Besitang, Langkat, Sumatera Utara (Sumut), masih merasakan dampak yang serius. Banjir merendam rumah warga, merusak fasilitas umum, dan menghilangkan lapangan sepak bola yang selama ini menjadi pusat aktivitas remaja setempat.
Lapangan yang hilang itu bukan sekadar ruang bermain. Tempat tersebut menjadi wadah tumbuhnya kebersamaan, semangat, dan mimpi anak-anak Besitang. Meski demikian, banjir tidak memadamkan semangat mereka untuk tetap berolahraga dan menjaga sportivitas.
BACA JUGA: RSU Haji Medan Salurkan 400 Paket Makanan untuk Korban Banjir Langkat
Jalan Aspal Jadi Lapangan Sepak Bola
Seiring surutnya air banjir, anak-anak dan remaja di Lingkungan Enam Sungai Pucuk mengubah jalan aspal yang mulai mengering menjadi lapangan sepak bola dadakan. Tanpa alas kaki, tanpa kostum seragam, mereka tetap berlari, menendang bola, dan bermain dengan penuh kekompakan.
Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan ruang kebersamaan dan simbol harapan. Dari jalan aspal yang sederhana, lahir kisah keteguhan hati remaja yang menolak menyerah pada keadaan pascabanjir.
BACA JUGA: BKKBN Sumut Selenggarakan Trauma Healing Pascabanjir di Langkat
Dukungan Pemerintah untuk Atlet Muda
Bupati Langkat H. Syah Afandin, S.H., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembinaan atlet muda di Kabupaten Langkat.
“Pembinaan atlet muda adalah investasi masa depan. Pemerintah Kabupaten Langkat berkomitmen memberikan dukungan penuh, baik melalui fasilitas maupun pendampingan, agar anak-anak kita bisa berkembang lewat olahraga. Sepak bola dan cabang olahraga lainnya harus menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar permainan,” tegas Syah Afandin.
BACA JUGA: Ribuan Pengungsi Banjir Tanjung Pura Mulai Pulang, Posko MAN 1 Langkat Resmi Ditutup Bertahap
Sepak Bola Jadi Penguat Semangat Pascabanjir
Semangat itu juga tercermin dari ungkapan para remaja Besitang kepada kliksumut.com, Sabtu (27/12/2025).
Seorang remaja, Adit mengatakan, lapangan yang selama ini menjadi tempat main bola, tergerus akibat terjangan banjir.
“Lapangan kami hilang karena banjir, tapi kami tidak mau berhenti bermain. Jalan aspal ini cukup untuk menjaga semangat kami.”
Pemuda lain, Dindo menambahkan, main bola bukan sekadar olah raga, namun menjadi ajang kumpul dan mengeratkan kekompakan.
“Walau tanpa sepatu dan kostum, kami tetap kompak. Yang penting bisa main bola bersama.”
BACA JUGA: BPK Wilayah II Sumut Salurkan Bantuan Korban Banjir Langkat
Sepak Bola Terapi Pengusir Kesedihan
Suwanda juga mengungkapkan hal yang sama. Sepak bola mampu menjadi terapi sementara dalam melupakan kesedihan akibat bencana hidrometeorologi.
“Sepak bola bagi kami bukan hanya permainan, tapi cara untuk melupakan kesedihan akibat banjir.”
Senada, Damar menyebutkan, sepak bola sudah menjadi kegiatan rutin. Tidak hanya sebagai olah raga, sepak bola juga menjadi edukasi membangun sportifitas dalam diri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak Besitang tetap bisa sportif, meski lapangan resmi sudah tidak ada,” ujarnya.
BACA JUGA: Prabowo Kunjungi Posko Pengungsian Korban Banjir di Langkat
Sementara Mahesa menyebutkan, tidak peduli seperti apa lapangan yang tersedia, sepak bola telah mengalir dalam darah mereka.
“Bermain di jalan aspal memang keras, tapi lebih baik daripada tidak bermain sama sekali.”
Harun berharap, Pemkab Langkat dapat membangun kembali lapangan sepak bola.
“Kami berharap suatu saat lapangan bola bisa dibangun kembali, agar kami punya tempat yang layak,” tuturnya.
Banjir boleh merenggut lapangan, tetapi tidak mampu merenggut semangat. Lewat setiap tendangan bola di atas aspal, anak-anak Besitang seakan menyuarakan tekad bahwa mereka masih bisa bermain sepak bola. (KSC)
REPORTER: Dody Ariandi








